
Oleh: Andi Fardian
Kesalahan terbesar sang raja adalah ia terlanjur mengikrarkan beberapa janji dalam kesepakatan dengan sebuah arwah. Kesalahan atau entah itu blunder dilakukannya demi mahkota emas. Mahkota itu sudah lama diincarnya, tapi tak kunjung didapatkan. Ya, kira-kira sebelas dua belas lah dengan Barca yang setiap tahun mengimpikan trofi UCL keenam. Sudah sedekade mimpinya, tapi tak kunjung bangun. Setiap musim baru, Barca dan kami fansnya optimis, tapi ujung-ujungnya di akhir musim, kami masuk goa berjamaah. Lalu tim sebelah yang tak pernah treble dan sixtuple itu meledek kami. Sang raja juga begitu. Setiap dihelat hajatan besar, ia berharap akan mahkota ia dapatkan. Tapi ujung-ujungnya apes.
Tapi kali ini, pada saat Kerajaan Anusapati akan mengadakan hajatan besar, ia tiba-tiba datang ke tempat arwah bersemayam. Ia datang untuk menyerahkan diri. Mungkin juga jiwanya. “Berikan mahkota itu padaku. Kupenuhi segala permintaanmu,” kata sang raja pada arwah. “Asal mahkota itu datang padaku, akan kuupayakan apa pun keinginananmu,” lanjut sang raja. Arwah tak bergeming.
Berkali-kali sang raja mengikrarkan janji-janji, arwah tetap diam. Tapi diam-diam arwah mulai membuat pertimbangan. Benar tidak si Arjuna ini—yang leluhurnya adalah mantan raja kecil di sebuah daerah selatan pinggir—akan memegang janjinya, begitu arwah membatin.
Si arwah dapat membaca gelagat Arjuna. Apa pun akan dilakukan untuk mendapatkan mahkota. Tapi arwah tidak mungkin mengabulkan begitu saja permintaan Arjuna tanpa persembahan dan syarat. Istilahnya mahkota ini bisa kaudapat dengan term & condition.
Arwah mulai membuat perhitungan. Si Arjuna mendengar dengan saksama. Salah satu poinnya adalah jika mahkota ia didapatkan, si Arjuna harus melanjutkan pembangunan candi megah yang letaknya di dekat kota ghoib bagian utara dekat samudera.
Arjuna mengiyakan. Maka diaturlah strategi dan kondisi agar seolah-olah Arjuna terlihat mendapatkan mahkota dengan upayanya sendiri. Padahal itu ada campur tangan tangan ghoib si arwah.
Arjuna pun tunduk pada arwah dengan segala janjinya. Termasuk harus mengenakan jimat khusus yang diberikan oleh arwah. Ke mana pun ia pergi, jimat itu harus dipakainya. Jimat adalah salah satu cara arwah mengawasi apakah Arjuna benar-benar menjaga omongan dan komitmennya.
To make long story short, jangan-jangan arwah mulai membaca gelagat aneh Arjuna. Karena itu arwah memberi pelajaran awal. Wah, mulai mbalelo ini, si arwah ghoib membatin.
Pembangunan candi yang dijanjikan keberlanjutannya, kok, tidak ada tanda-tanda dilanjutkan adalah salah satu dugaan pelanggaran kesepakatan awal yang membuat arwah murka. Mungkin, loh, ya.
Lagi-lagi untuk menutup cerpen ini saya ingin mengutip salah satu falsafah kepemimpinan Jawa. Ketika tangan kanan merangkul, tetaplah waspada, karena bisa jadi tangan kirim sedang menghantam.
Jadi, raja yang bernama Arjuna ini sebenarnya tersandera oleh janji-janji yang ia buat bersama arwah. Ibaratnya, ketika Anda melakukan pesugihan, tentu setan akan meminta sejumlah syarat untuk dipenuhi. Kalau melanggar janji, ya, Anda terancam. Begitu film horor yang saya tonton kemarin siang.*
