Presiden Akhirnya Dikudeta

Oleh: Andi Fardian

Presiden akhirnya dikudeta. Siapa yang mengudeta? Ya, wakil presiden (wapres). Kudeta yang dilakukan sangat senyap. Cara yang digunakan oleh wapres adalah dengan melakukan manuver politik yang berujung pada ancaman pemakzulan yang tak terelakkan bagi sang presiden. Daripada dimakzulkan, ia akhirnya mengundurkan diri. Ini mirip-mirip cerita Richard Nixon dengan Skandal Watergate.

Di depan publik, wapres memasang muka manis. Ia menyatakan sikap mendukung segala kebijakan presiden. Tapi di belakang layar, ia menyusun strategi politik yang sistematis untuk menjatuhkan presiden, termasuk menjadi otak intelektual di balik berbagai huru-hara politik.

Itulah politik; bengis dan jarang tulus. Semuanya soal kepentingan. Namun, yang dilakukan oleh wapres tidak salah seratus persen. Hampir semua dari mereka yang menjadi wakil, entah itu wakil presiden, wakil gubernur, wakil bupati, wakil wali kota, wakil rektor, wakil dekan, pasti ingin menjadi presiden, gubernur, bupati, wali kota, rektor, dan dekan. Tidak enak berada di posisi wakil. Kebanyakan hanya jadi ban serep. Tapi, wakil rakyat, saya masih berpikir maukah mereka menjadi rakyat?

Itu yang terjadi pada Presiden Garrett Walker. Wapresnya adalah Frank Underwood. Anda yang mengikuti serial Netflix House of Cards pasti tahu dan mungkin jengkel pada sikap Wapres Underwood yang licik, bengis, dan menghalalkan segala cara. Ingatkah Anda ketika ia membunuh wartawan Zoe Barnes, selingkuhannya dengan cara mendorongnya ke rel kereta? Itu adalah satu dan sekian banyak kebengisan Wapres Underwood untuk mempertahankan kekuasaan. Dianggap akan membuka banyak kedok dan kejahatan politiknya, Barnes dibunuhnya. Sampai sekarang itu masih diinvestigasi oleh wartawan.

Walker dilantik sebagai presiden pada 20 Januari 2013. Langkah dan kebijakannya, antara lain: mengesahkan RUU Reformasi Pendidikan dan berupaya meloloskan RUU penting lainnya, tapi akhirnya ditolak oleh DPR.

Walker adalah anggota Partai Demokrat, Underwood juga. Di DPR, Demokrat memegang suara yang signifikan, tapi tidak menjamin diterimanya berbagai usulan kebijakan yang diajukan oleh Walker. Sebelum Underwood menjadi wapres, ia adalah anggota DPR. Ia menggalang dan melobi anggota DPR dari Demokrat dan Republik untuk menolak usulan UU dan kebijakan yang diajukan Presiden Walker. Padahal Underwood ini wakil presiden. Ditarik agak ke belakang, Underwood menjadi wapres pun adalah hasil dari langkah-langkah senyap dan bengisnya. Jim Mattews, wapres sebelumya, dibuat tidak berdaya oleh Underwood, hingga akhirnya mengundurkan diri dan mencalonkan diri kembali sebagai gubernur.

Konflik demi konflik yang sengaja diatur Underwood membuat Walker tertekan. Tingkat kepuasan publik jatuh hingga 8 persen. Ancaman pemakzulan tidak terhindarkan. Demi kehormatan, Walker mundur. Otomatis, Underwood naik menjadi presiden.

Kesalahan terbesar Walker adalah mempercayai Frank Underwood. Ia tidak berkompeten: mengacaukan hubungan dengan China, terseret tuduhan pencucian uang, hingga menciptakan krisis energi nuklir. Istrinya, Claire, juga sosok kontroversial. Di akhir episode, Claire bahkan meminta suaminya menjadikannya wakil presiden karena tak puas hanya menjadi ibu negara atau Utusan Khusus AS untuk PBB.

Cerita kudeta di atas itu hanyalah serial. Tidak pernah dan akan terjadi di Indonesia. Di Indonesia tidak ada wakil yang mau menjalankan manuver politik senyap untuk merebut posisi puncak. Soehato ke Sukarno dan Mega ke Gus Dur, bagaimana? Enggak, kok, Suharto dan Mega menjadi presiden dengan cara yang konstitusional. Kita, orang Indonesia sangat anti melanggar aturan. Betul, ‘kan begitu saudara-saudara?*

 

Author: Andi Fardian

I am Editor, Essayist, Translator, Researcher, Book Writer, Ghostwriter, Publisher, and CSR & Community Development Consultant.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *