Kelemahan Banyak Penulis

Einstein yang terkenal itu pernah berkata begini, “Kalau kamu tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, kamu belum cukup paham akan hal itu.” Apa yang dikatakan oleh Einstein tersebut relevan dengan fenomena atau kebiasaan banyak penulis yang lebih suka membuat tulisan dengan bahasa yang rumit dan istilah-istilah asing yang sulit dimengerti oleh pembaca dari berbagai kalangan.

Tujuan mereka mungkin agar terlihat intelek atau sebagai orang-orang akademis. Tapi satu hal yang muncul di benak saya adalah: apakah mereka benar-benar paham apa yang mereka tulis? Atau, mungkinkah mereka justru pura-pura paham terhadap apa yang ditulisnya, lalu membungkus kepura-puraan itu dengan mengutip bahasa dan istilah asing? Saya tidak tahu, tapi tesis Einstein di atas dapat menjadi dasar untuk menduga-duga sikap eksklusif semu ini.

Sebab, mereka yang memahami dengan baik sesuatu yang ditulisnya akan berusaha menyampaikannya dengan bahasa yang sedapat mungkin dapat dimengerti oleh semua pembaca, mulai dari rakyat awam sampai kalangan profesor.

Pada berbagai forum atau diskusi kepenulisan, saya berulang kali menyampaikan bahwa penulis yang baik adalah yang mampu menyampaikan apa yang dibacanya atau dilihatnya dengan bahasa yang sesederhana mungkin. Penulis harus merujuk pada tujuan awal menulis agar tulisannya dapat dibaca dan dipahami oleh semua kalangan.

Tapi tampaknya tidak semua orang mampu menulis dengan bahasa yang sesederhana mungkin. Di sana mungkin juga ada ego dan perasaan eksklusif sebagai kalangan yang berintelek dan berakademis. Tapi justru itu menjadi kelemahan mereka.

Ketidakmampuan mereka melepaskan diri dari atribut intelektual dan akademis juga memenjara kemampuan menulis mereka pada status quo eksklusivitas semu. Karena itu, tidak heran ketika banyak orang dari kalangan awam mencibir mereka dengan kalimat: “Tulisanmu terlalu teoretis.”

Kelemahan di atas makin diperparah dengan gaya penulisan yang berputar-putar.

Ada istilah Jawa yang relevan dengan fenomena berputar-putar ini: mendaki-daki. Kalau ada orang (Jawa) yang mengatakan, “Tulisanmu mendaki-daki, ya,” itu berarti sindiran halus terhadap tulisanmu yang tidak to the point dan tidak kontekstual. Karena itu, tulislah hal-hal yang kontekstual dengan kehidupan sosial kemasyarakatan, termasuk permasalahan-permasalahannya, dengan gaya yang tidak terlalu teoretis. Utamakan aspek ontologisnya. Berikan jalan keluarnya.

Buatlah tulisan dengan bahasa yang sebisa mungkin menyentuh semua kalangan. Itu juga baik bagimu untuk menjadi penulis yang merakyat.

Kalau kamu penulis yang berasal dari kalangan intelektual atau akademisi, copotlah “baju kampus” dan atribut akademismu itu. Tinggalkan di kampus. Kalau sudah berada di tengah masyarakat, berbaurlah. Buang jauh-jauh eksklusivitas itu, termasuk cara menulismu. Cobalah merakyat mas, mbak, bapak, dan ibu. Tidaklah hilang atribut intelektual dan akademisimu karena menggunakan bahasa rakyat jelata.*

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *